It’s Yesterday! 5 Stigma Keliru Tentang Freelancer yang Harus Dihindari – Dalam industri bisnis mempekerjakan pekerja lepas secara remote (jarak jauh) bisa memberikan keuntungan tersendiri.

Faktanya, ada begitu banyak perusahaan yang mengakui kebenaran ini, sehingga semakin banyak menambah jumlah pekerja lepas dalam barisan tim kerjanya.

Menurut studi yang dilakukan Freelancers Union & Elance-oDesk, pekerja lepas telah menyumbang sekitar $ 715 miliar pada ekonomi Amerika Serikat. 

Bahkan, pada tahun 2027, diperkirakan pekerja lepas akan menjadi mayoritas tenaga kerja di seluruh dunia.

Terlepas dari itu, masih saja banyak beredar di tengah masyarakat berbagai stigma keliru tentang pekerja lepas.

Periksa beberapa mitos umum tentang freelancer berikut ini agar kamu juga tidak ikut salah memahaminya.

5 Stigma Keliru Tentang Freelancer yang Harus Dihindari

Mitos #1: Pekerja lepas tidak dapat melakukan pekerjaan yang rumit

admin sosial media
Gambar: ShutterStock

Eksekutif dan manajer mungkin berasumsi bahwa mereka tidak bisa menemukan freelancer yang berkualifikasi tinggi. Eitss.. tunggu dulu! Hal ini sama sekali salah. 

Seperti yang dicatat oleh satu Analis Industri Kepegawaian, sekitar setengah dari semua freelancer memiliki setidaknya gelar associate.

Baca Juga: Catat ya! Ini 5 Kesalahan Freelancer Saat Bidding Project

Dengan kata lain, freelancer saat ini merupakan profesi tidak tetap yang memiliki kualifikasi apa pun sesuai kebutuhan industri untuk mengisi kesenjangan dalam alur kerja. 

Misalnya saja seperti keahlian spesialis IT, keuangan, kesehatan, dan sebagainya. Bisnis bisa mempekerjakan freelancer sesuai keterampilan dan keahlian yang dibutuhkan untuk mendukung operasional bisnis tetap berjalan. 

Masyarakat patut menyadari, bahwa kini banyak freelancer yang aktif mengembangkan berbagai profesi atau jasa baru.

Misalnya, saat ini ada berbagai situs freelancer yang memungkinkan klien bekerja sama dengan para ilmuwan atau peneliti lepas. 

Ditambah lagi, ada banyak platform freelancer yang menyediakan freelancer dengan beragam kualifikasi umum seperti penulis, pengembang, pakar pemasaran dan penjualan, dan lain – lain.


Mitos #2: Pekerja lepas menginginkan penugasan sekali saja dan tidak lebih

rekomendasi klien
Gambar: ShutterStock

Pekerja lepas atau freelancer masih dianggap seperti “pekerjaan hantu”. Tidak memiliki identitas dan kerap bekerja di balik layar. Setelah pekerjaan selesai, mereka akan segera menghilang dan beralih ke klien lainnya.

Baca Juga: Jam Kerja Fleksibel, 8 Alasan Kenapa Kamu Harus Jadi Freelancer

Itulah kesan yang dimiliki banyak manajer tentang pekerja tidak tetap. Meskipun benar bahwa freelancer mungkin tidak menginginkan pekerjaan tradisional seperti di kantor pada umumnya, tetapi freelancer sangat menerima hubungan kerja jangka panjang. 

Saat ini banyak freelancer yang bekerja dengan klien tetap yang membayar jasa mereka dengan kontrak setiap bulan, tidak berbeda seperti pegawai kantor pada umumnya. 

Dalam sebuah survey menemukan fakta bahwa sebanyak 31 persen pekerja lepas akan rela mengambil pekerjaan penuh waktu sebagai karyawan di kantor klien yang membuat mereka nyaman dan cocok.


Mitos #3: Freelancer tidak memiliki loyalitas

tawaran project - pekerja lepas - uang - bayaran
Gambar: ShutterStock

Sekalipun pada kenyataannya freelancer memang menjadi bos bagi diri sendiri, namun mereka tetap memiliki loyalitas kepada klien mereka.

Baca Juga: Mau Tambah Penghasilan? Yuk, Geluti 11 Usaha Sampingan di Rumah Ini

Bagaimanapun, klien – klien tersebut pada dasarnya sama seperti manajer mereka. Ini seperti memiliki banyak supervisor yang memeriksa masing – masing hasil pekerjaan. 

Bahkan, menurut sebuah studi Burson-Marsteller, 42 persen perusahaan menganggap pekerja lepas tidak ubahnya seperti karyawan tetap mereka. 

Pekerja lepas menginginkan fleksibilitas kerja, tetapi tidak akan mengorbankan kehilangan klien yang berharga.

Mereka menyadari bahwa klien merupakan sumber aliran pendapatan mereka. Jadi, freelancer akan tetap loyal dan melakukan pekerjaan sebaik mungkin. 

Oleh karena itu, freelancer yang berbakat sangat serius dalam menjalankan pekerjaannya. Mereka tetap berkomunikasi, dan menunjukkan kesetiaan dengan cara berbeda. 

Misalnya, ada freelancer yang menunjukkan dedikasinya pada proyek tertentu dengan rela begadang hingga larut malam atau memberikan diskon tarif saat terjadi kesalahan.

Bahkan, ketika sebenarnya hal itu tidak diperlukan dan perusahaan tidak membayar ekstra untuk layanannya itu.


Mitos #4: Pekerja lepas adalah penyendiri atau introvert

pekerja lepas - freelancer
Gambar: ShutterStock

Memang benar bahwa sebagian besar pekerjaan lepas dilakukan dari rumah, di kedai kopi, atau ruang kerja bersama (co-working space), dll.

Baca Juga: 10 Peluang Kerja Online yang Harus Dicoba Sekarang

Namun, beberapa orang secara keliru percaya bahwa jenis karir pekerja lepas ini sangat cocok untuk mereka dengan kepribadian yang tertutup. 

Padahal, tidak sedikit pekerja lepas yang membangun basis klien dengan sangat intens dan berjumpa banyak orang.

Mereka harus datang ke berbagai acara pertemuan atau acara komunitas start up dan pebisnis serta bersikap ramah. 

Hanya saja, pekerja lepas memang harus memasarkan jasa mereka sendiri dan membangun brand image secara individu.

Mungkin inilah yang membuat orang melontarkan stigma bahwa pekerja lepas adalah penyendiri atau individualis. 


Mitos #5: Freelancer bisa bekerja dari rumah, kapan pun dan bebas berpakaian apa pun

kerja dari rumah - freelancer - freelance
Gambar: ShutterStock

Kabar yang sering terdengar tentang freelancer memang seperti itu. Pekerjaan lepas menawarkan kebebasan dari segi jam kerja, tempat kerja, dan dress code.

Baca Juga: 5 Metode Efektif Mendapatkan Penghasilan dari Blog

Akan tetapi, ini hanya mitos bagi sebagian pekerja lepas. Karena mereka harus mematuhi jam kerja normal antara jam 08.00 – 17.00 agar bisa tetap berkomunikasi dengan klien yang berbasis di kantor konvensional. 

Kadang freelancer juga harus berada di satu tempat dengan layanan Wi-Fi yang bisa diandalkan. Jadi, meskipun bekerja dari tepi pantai adalah impian yang menyenangkan, rasanya lokasi ini kurang produktif bila untuk bekerja. 

Selain itu, panggilan video dengan klien atau rekan kerja menuntut agar freelancer tetap berpakaian standar yang sesuai dan sopan.

Tidak ada yang melarang freelancer memakai piyama atau celana yoga saat bekerja, tetapi sebagian besar freelancer yang profesional tetap menjaga penampilan yang rapi dan sopan di depan klien – klien mereka.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.